Medan I Liputanresolusi.com
Keinginan untuk kembali dan berkontribusi membangun daerah asal menjadi motivasi kuat bagi sejumlah generasi muda Papua dalam menentukan pendidikan tinggi. Demi mewujudkan harapan tersebut, mereka memilih menempuh pendidikan di Politeknik Agraria STPN, perguruan tinggi kedinasan di bawah Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, untuk memperdalam ilmu pertanahan dan tata ruang.
Salah satu taruna yang menaruh harapan besar melalui pendidikan tersebut adalah Alfando Almendo, Taruna Tingkat II asal Manokwari, Papua Barat. Ia menilai wilayah Papua masih membutuhkan banyak sumber daya manusia yang memahami persoalan agraria guna mendukung pembangunan daerah di masa depan.
Menurut Alfando, keputusannya memilih Politeknik Agraria STPN dilandasi keinginan untuk kembali ke kampung halaman dan ikut ambil bagian dalam pembangunan Papua, khususnya dalam menyelesaikan berbagai persoalan pertanahan yang masih kerap terjadi.
Selain mempelajari bidang keilmuan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah, Alfando juga mengaku mendapat pengalaman berharga melalui sistem pendidikan berasrama yang diterapkan kampus tersebut. Baginya, lingkungan pendidikan itu turut membentuk karakter, kedisiplinan, serta kemampuan kepemimpinan.
Semangat serupa juga datang dari Rafael Korwa, Taruna Tingkat II asal Merauke, Papua Selatan. Ketertarikannya terhadap peta sejak kecil menjadi awal perjalanannya mengenal dunia survei dan pertanahan.
Namun selama menjalani pendidikan, Rafael menyadari bahwa ilmu pertanahan memiliki peran yang jauh lebih luas dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam membantu menyelesaikan persoalan sengketa tanah yang masih sering terjadi di berbagai daerah.
Ia menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami hak atas tanah maupun aspek hukum pertanahan. Karena itu, kebutuhan akan generasi muda yang memiliki kompetensi di bidang agraria menjadi sangat penting, khususnya di wilayah dengan karakteristik pertanahan yang kompleks seperti Papua.
Rafael berharap setelah menyelesaikan pendidikan, dirinya dapat kembali ke daerah asal dan membagikan ilmu yang telah diperoleh agar masyarakat lebih memahami hak-haknya dan tidak mudah dirugikan dalam persoalan pertanahan.
Bagi Alfando dan Rafael, pendidikan di Politeknik Agraria STPN bukan sekadar jalan meraih gelar, melainkan langkah mempersiapkan diri menjadi bagian dari pembangunan daerah asal. Mereka berharap ilmu yang didapat dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Papua, terutama dalam mewujudkan tata kelola pertanahan yang lebih baik.
Kisah keduanya menjadi gambaran bahwa kebutuhan tenaga ahli di bidang agraria tidak hanya diperlukan di pusat pembangunan, tetapi juga di daerah yang masih menghadapi berbagai tantangan pertanahan dan tata ruang.
Bagi lulusan SMA/sederajat yang tertarik mendalami bidang pertanahan dan tata ruang, pendaftaran Taruna/Taruni Politeknik Agraria STPN masih dibuka hingga 18 Juni 2026. Informasi lengkap mengenai persyaratan dan tahapan seleksi dapat diakses melalui situs resmi kampus. Politeknik Agraria STPN.
(Red)